27.12.25

Hatyai

Di penghujung tahun ini, saya dan istri mencoba ke Hatyai. Tujuan sederhananya adalah melihat selintas budaya keseharian Thai-Melayu karena memang di wilayah ini merupakan perbatasan antara Thailand dan Malaysia. Mungkin menarik. Rencana kami adalah melihat bangunan lama, persinggungan antarwarga, dan tentu saja kulinernya. Kami berangkat dari Jogja menggunakan Airasia pada tanggal 27 Desember 2025 dan transit semalam di Kuala Lumpur. Pesawat berangkat pukul 17.20 waktu Jogja dan mendarat sekitar pukul 21.00 waktu Malaysia. Begitu keluar imigrasi kami menukarkan uang sekira cukup untuk kebutuhan semalam sehari, kemudian langsung menuju Stasiun KL Sentral. Perjalanan sambung dengan LRT menuju ke Pasar Seni di mana Hotel Travelodge berada di sekitar area tersebut. Kami menginap di sini. Dan, begitu sampai hotel kami langsung tidur. Keesokan harinya (28/12/2025) mencari sarapan di seputar pasar seni, persiapan, dan setelah itu langsung menuju bandara. Kami mencoba menggunakan 4 line kereta menuju bandara dengan maksud agar lebih irit karena kereta ekspress yang langsung lumayan mahal. Sampai di KLIA 2 langsung check in, mengisi perut dan menunggu boarding. Pesawat terbang pukul 18.20 dan mendarat di Hatyai pada pukul 18.30. Rupanya di bandara tidak ada penukaran uang sehingga terpaksa kami menuju ATM dan kemudian memesan taksi karena bus mini sudah tidak tersedia. Tujuan bukan langsung ke hotel melainkan ke Central Hatyai.

Sebuah mall yang lumayan besar dan di sini kami sempatkan menukar uang mumpung ada money changer. Di lantai bawah ternyata ada semacam jualan berjejer seperti pasar. Kami turun untuk mengisi perut karena sepanjang penerbangan tertidur. Pemandangan khas Thai-Melayu langsung kami dapatkan karena banyak pengunjung dan penjual berbusana Muslim serta bisa memahami Bahasa Indonesia. Lumayan lengkap yang ditawarkan. Kami mencoba sup iga dan bebek panggang serta minum es kalamansi dan pandan sereh. Rasanya enak dan membuat perut penuh. Selepas itu membeli air mineral dan kue lalu langsung jalan kaki menuju Crystal Hotel yang letaknya di seberang mall. Agenda kami jelas istirahat dan perjalanan akan kami lanjutkan esok pagi.

Kami bangun pagi, sarapan di hotel, mandi, dan berangkat menuju Kim Yong Market menggunakan Grab pada pukul 10.30. Dalam perjalanan, kami menyadari bahwa Hatyai belum sepenuhnya pulih dari bencana banjir yang melanda. Lumayan banyak gedung yang belum buka, bekas perkakas rumah dan sampah teronggok di pinggir jalan, dan tanda batas ketinggian air masih terlihat di tembok-tembok. Meskipun dapat dikatakan situasi sudah kembali normal, namun belum sepenuhnya. Tetapi, penanganan terlihat cepat dan masyarakat sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Sesampai di pasar kami langsung blusukan, berbelanja beragam snack (asem aneka rasa, kacang-kacangan serta bumbu) dan sedikit ngobrol dengan pedagang yang sebagian besar Muslim dan bisa berbahasa Melayu/Indonesia. Pasar lokal ini sudah kembali bergeliat dan hanya sedikit kios yang masih tutup. Kami hanya menyusuri pinggiran dan los pasar di lantai 1 saja. Dari sini kami jalan kaki ke Wat Chue Chang, sebuah kuil Buddha yang kebetulan tutup sehingga kami hanya bisa melewati pinggir dan depannya saja. Dari kuil kembali jalan kaki menuju ke Hood Coffee yang cukup viral. Kedai kopi ini sederhana, menempati bangunan kayu lawas yang sedikit saja direnovasi bagian dalamnya. Di area ini memang masih terdapat beberapa rumah dengan bentuk dan struktur lama (asli) yang terbuat dari kayu. Ruangan Hood Coffee sendiri terlihat kecil tetapi pengunjung lumayan penuh. Saya memesan kopi hitam dan istri saya caramel machiato, semuanya pakai es. Pantas saja banyak orang datang karena kopinya enak dan suasana mendukung. Cukup berlama di sini sebelum lanjut ngegrab menuju Krua-Pa Yad. Sebuah rumah makan terkenal yang menyajikan beragam makanan enak. Rumah makan ini buka 2 kali, waktu makan siang dan makan malam. Pengunjung ramai berdatangan dan makanan siap disajikan dengan cepat. Kami pesan daging kepiting kuah kare dan kikil dimasak seperti bacem. Semua ludes, perut kami penuh, dan selepas itu ngegrab lagi kembali ke hotel. Rehat sejenak dan meletakkan barang belanjaan.

Sore hari kami kembali ke Central Hatyai untuk menukar uang lagi. Ternyata ada bazaar di luar dan di dalam mall. Kami membeli siomay dan minuman air mata kucing kelengkeng di luar dan kue ubi diberi topping cream santan serta bakpao gepeng isi daging di dalam mall. Selepas itu menuju ke Lee Garden Night Market. Sembari menunggu jemputan grab, kami mengamati ribuan burung beterbangan di seputaran mall. Hinggap di kabel listrik dan pepohonan. Hari ini di pelataran luar mall juga terdapat panggung musik, mungkin untuk menyambut hitung mundur pergantian tahun. Tak lama grab datang dan kami menuju ke Lee Garden. Rupanya, jalanan sepanjang pasar sedang di pasang tenda-tenda untuk agenda penyambutan tahun baru sehingga los pasar malam berkurang cukup banyak. Padahal pasar ini cukup terkenal dan banyak pengunjung dari luar negara yang datang, seperti juga di malam ini. Kami jalan menyusuri los di samping jalan utama. Istri membeli jagung dan ayam goreng sementara saya membeli roti canai isi telur. Setelah merasa cukup dan menyadari kalau Hatyai di atas jam 8 malam sudah sepi, kami putuskan kembali ke hotel. Namun sebelum masuk, kami makan malam dahulu di rumah makan From the Sea yang menjual aneka hidangan laut. Saya pesan udang tumis sayur serta minum sere jahe dan istri saya pad thai udang serta kelapa muda. Rasa makanan enak terutama dengan seasoningnya. Sehabis dari resto ini, kami rehat mengumpulkan tenaga untuk besok pagi.

Keesokan pagi, kami bangun agak telat. Selepas sarapan sekitar pukul 10.00 kami jalan kaki mencoba mencari tempat sewa motor. Tempat layanan pertama buka namun semua motor sudah tersewa di hari itu. Kami teruskan jalan kaki, belanja minuman dan snack sebentar di Lotus Mart, Ternyata di seberang mart ada penyewaan motor dengan rating baik, yaitu Bangfit. Kami langsung dilayani dengan ramah. Di sini tidak perlu memberi deposit atau jaminan uang maupun paspor. Cukup salah satu paspor difoto, juga lembar booking hotel serta diri kami beserta sepeda motor yang akan disewa. Harga seharinya 300 Baht (sekira 150 ribu Rupiah). Bensin full dan nanti ketika mengembalikan juga dalam keadaan full. Kami sangat senang, karena prosesnya cepat dan pemilik percaya sepenuhnya pada pelanggan. Dengan mengendarai motor, kami memulai perjalanan menuju kota Songkhla. Kami mengambil jalan utama semacam highway namun harus lewat dalam kota dahulu. Setelah sampai jalan utama kami melaju melewati Khlong Hae Floating Market, namun tidak mampir. Jalanan besar dan bagus, meski di beberapa bagian bergelombang. Tujuan pertama kami adalah The Central Mosque of Songkhla. Masjid Agung Songkhla yang juga difungsikan sebagai Islamic Center. Bangunan dan tata lokasinya mirip Taj Mahal, hanya mirip saja. Kami berhenti sebentar, mengamati dari berbagai sisi, mengambil foto lalu lanjut berkendara.

Begitu keluar dari kompleks Masjid, kami mengikuti arah jalan utama. Tetapi istri saya punya gagasan untuk berbelok melintasi jalan pinggiran sungai. Jalan ini tidak terlalu besar, lumayan berkelok dan menyajikan pemandangan yang juga  lumayan. Jalan ini pada akhirnya juga akan bertemu dengan jalan utama, namun bukan yang menuju ke Songkhla melainkan menyeberangi jembatan dan menuju ke Pulau Ko Yo. Sebuah pulau yang berada di area Danau Songkhla. Di dalam pulau ini terdapat banyak Wat atau Kuil Buddha, tetapi kami hanya mampir di salah satunya, yaitu Wat Laem Pho. Di sini kami berhenti, istirahat sebentar, membeli pisang goreng dan kelapa muda. Kami sedikit mengobservasi area Wat, mengambil gambar Buddha Tidur, mengamati beberapa patung dan melihat dari dekat pohon Sala yang berbuah lebat. Selain kuil, banyak terdapat rumah makan dan juga ada penginapan. Jika dilanjutkan, jalanan sampai ke ujung pulau, melintasi jembatan lagi dan sampai ke daratan di seberang kota Songkhla. Jika ambil jalur ini, maka untuk menuju ke kota harus naik ferry. Karena mengejar waktu, kami putar balik kembali ke jalan semula. Tetapi kami tidak menuju ke jalan utama melainkan kembali berbelok melewati jalan pinggiran danau dengan pemandangan lebih menarik dan tidak terlalu banyak kendaraan besar lalu-lalang. Dengan tenang dan santai kami berkendara hingga akhirnya masuk ke wilayah kota Songkhla.

Tujuan kami adalah Songkhla Old Town. Kota tua yang mana struktur dan bangunannya masih dipertahankan. Sebelum masuk ke area kota tua, kami mampir membeli durian yang dijajakan di pinggir jalan. Dengan harga 360 Baht, kami dapat satu box kecil yang masih fresh dan langsung kami habiskan. Berikutnya, ada pemandangan menarik, yaitu perahu-perahu nelayan yang sedang merapat di sebuah dermaga kecil. Kami berhenti sebentar, ambil foto lalu lanjut. Tak lama kami sampai di area kota tua. Di sini jalan dan gangnya lumayan kecil, oleh karena itu hampir semuanya dibuat satu arah. Banyak gedung lawas berjejer. Wisatawan umumnya berjalan kaki menelusuri gang-gang. Kami sendiri berkeliling motoran pelan-pelan. Setelah akhirnya sampai di Gate (gerbang kota tua), kami kembali menyusuri gang untuk mencari warung mie yang lumayan legend. Warung mie yang kami datangi termasuk lawas, dikelola oleh dan sudah 3 generasi. Di sini saya memesan sup mie sementara istri saya memilih bakso tanpa kuah. Rasanya menyegarkan dengan bumbu yang tidak terlalu nendang dan membuat kami terlalu kenyang. Akhirnya kami putuskan untuk segera berkendara agar dapat angin segar dan menuju ke pantai Samila. Rupanya istri saya masih merasa terlalu kenyang sehingga cukup duduk di pinggir pantai. Saya sendiri jalan-jalan sekitar pantai hingga ke ujung di mana patung Putri Duyung yang ikonik itu berada. Tak berapa lama di sini, segera lanjut berkendara untuk balik ke kota Hatyai. Kami sengaja ambil jalur berbeda dan sedikit lebih cepat menuju hotel. Di tengah perjalanan melewati Municipal Park, sebuah taman wisata. Dari taman ini hotel tidak terlalu jauh. Meski demikian, kami harus segera mengembalikan motor sebelum jam sewa berakhir. Karena tidak mengisi penuh bensin waktu mengembalikan, maka kami membayar 60 Baht sebagai gantinya. 

Dari penyewaan motor kembali berjalan kaki ke hotel. Istirahat menunggu hari gelap. Sekira pukul 18.45 kami turun dan kembali berjalan kaki menuju ke Asean Night Bazaar. Tetapi karena merasa kurang sreg sebab lokasinya tidak benar--benar di pinggir jalan, akhirnya kami putuskan ke Greenway Night Market. Dua tempat ini berdekatan dan sama-sama merupakan pasar malam. Begitu masuk Greenway kami cukup kaget karena luas sekali areanya. Banyak jenis dagangan ditawarkan, pakaian, sepatu, mainan, tas, casing HP, bahkan booth khusus untuk nail art pun ada. Tak lama berjalan, kami melangkah menuju ke food court. Di sini harus membeli kartu belanja yang berisi barcode seharga 10 Baht dan mendeposit sejumlah uang. Jika uang yang kita depositkan tidak habis dibelanjakan, maka bisa minta refund. Saya memesan tom yum pedas khas Hatyai sementara istri saya memesan ketan-mangga-eskrim. Untuk minumnya adalah smoothie kelapa dan alpukat. Tidak cukup itu, mata kami kemudian tertarik dengan udang rebus yang ukurannya lumayan besar. Kami membeli 2 porsi. Rasanya enak terutama ketika diberi sambal hijau khas yang sedikit kecut. Habis makan lalu jalan-jalan sebentar menyusuri los-los dagangan. Karena cukup lelah kemudian duduk menikmati suasana dan mengamati fashion pengunjung pasar. Setelah cukup, balik lagi jalan kaki ke hotel sembari mampir di Sevel. Malam ini, kami gunakan untuk rehat, mengisi borang kedatangan Singapura karena besok siang pesawat yang kami tumpangi mesti transit, merencanakan agenda esok pagi, dan tidur.

Catatatan: ada dua kota singgah yang banyak wisatawannya, yaitu pusat kota Hatyai dan kota Songkhla. Keduanya menawarkan atraksi berbeda tetapi sama-sama panas. Hatyai kota besar dengan atraksi sebagian besar adalah belanja seperti mall, pasar tradisional, dan pasar malam, tetapi ada juga taman dan kuil. Banyak orang memborong oleh-oleh di sini. Sementara Songkhla, khusus di area kota tuanya menawarkan konstruksi kota lama lengkap dengan gang, warung, dan toko serta tidak jauh dari pantai Samila. Bahasa Indonesia dapat dipahami oleh sebagian besar penduduk Muslim. Ada yang sangat lancar, lumayan lancar, dan mengerti sedikit saja. Banyak terdapat makanan halal di sini. Tempat ibadah paling banyak adalah Wat, namun ada juga Masjid dan Kelenteng. Mesti membawa uang Baht seperlunya dahulu sebab di bandara tidak ada penukaran uang. Money exchange ada di mall dan sekitaran Lee Garden Plaza di Hatyai, dan kota tua di Songkhla. (**)

4 comments:

  1. Wah menyenangkan sekali, jalan2 bsm istri di penghujung tahun.

    ReplyDelete
  2. Ternyata dokumentasi tidak hanya foto toto. Ditulis dideskripsikan lebih asyik dibaca. Dan pembacapun berimajinasi seakan ikut jalan jalan ke sana. Selain itu bisa dijadikan semacam tutorial jika akan ke sana. Josss pokokmen.

    ReplyDelete

Jalan dan Kulineran di Solo

Kota Solo atau Surakarta tidak jauh letaknya dari Jogja. Kalau naik KRL waktu tempuhnya adalah 1 jam, tetapi kalau pakai kereta api jarak ja...