Sebuah mall yang lumayan besar dan di sini kami sempatkan menukar uang mumpung ada money changer. Di lantai bawah ternyata ada semacam jualan berjejer seperti pasar. Kami turun untuk mengisi perut karena sepanjang penerbangan tertidur. Pemandangan khas Thai-Melayu langsung kami dapatkan karena banyak pengunjung dan penjual berbusana Muslim serta bisa memahami Bahasa Indonesia. Lumayan lengkap yang ditawarkan. Kami mencoba sup iga dan bebek panggang serta minum es kalamansi dan pandan sereh. Rasanya enak dan membuat perut penuh. Selepas itu membeli air mineral dan kue lalu langsung jalan kaki menuju Crystal Hotel yang letaknya di seberang mall. Agenda kami jelas istirahat dan perjalanan akan kami lanjutkan esok pagi.
Sore hari kami kembali ke Central Hatyai untuk menukar uang lagi. Ternyata ada bazaar di luar dan di dalam mall. Kami membeli siomay dan minuman air mata kucing kelengkeng di luar dan kue ubi diberi topping cream santan serta bakpao gepeng isi daging di dalam mall. Selepas itu menuju ke Lee Garden Night Market. Sembari menunggu jemputan grab, kami mengamati ribuan burung beterbangan di seputaran mall. Hinggap di kabel listrik dan pepohonan. Hari ini di pelataran luar mall juga terdapat panggung musik, mungkin untuk menyambut hitung mundur pergantian tahun. Tak lama grab datang dan kami menuju ke Lee Garden. Rupanya, jalanan sepanjang pasar sedang di pasang tenda-tenda untuk agenda penyambutan tahun baru sehingga los pasar malam berkurang cukup banyak. Padahal pasar ini cukup terkenal dan banyak pengunjung dari luar negara yang datang, seperti juga di malam ini. Kami jalan menyusuri los di samping jalan utama. Istri membeli jagung dan ayam goreng sementara saya membeli roti canai isi telur. Setelah merasa cukup dan menyadari kalau Hatyai di atas jam 8 malam sudah sepi, kami putuskan kembali ke hotel. Namun sebelum masuk, kami makan malam dahulu di rumah makan From the Sea yang menjual aneka hidangan laut. Saya pesan udang tumis sayur serta minum sere jahe dan istri saya pad thai udang serta kelapa muda. Rasa makanan enak terutama dengan seasoningnya. Sehabis dari resto ini, kami rehat mengumpulkan tenaga untuk besok pagi.
Keesokan pagi, kami bangun agak telat. Selepas sarapan sekitar pukul 10.00 kami jalan kaki mencoba mencari tempat sewa motor. Tempat layanan pertama buka namun semua motor sudah tersewa di hari itu. Kami teruskan jalan kaki, belanja minuman dan snack sebentar di Lotus Mart, Ternyata di seberang mart ada penyewaan motor dengan rating baik, yaitu Bangfit. Kami langsung dilayani dengan ramah. Di sini tidak perlu memberi deposit atau jaminan uang maupun paspor. Cukup salah satu paspor difoto, juga lembar booking hotel serta diri kami beserta sepeda motor yang akan disewa. Harga seharinya 300 Baht (sekira 150 ribu Rupiah). Bensin full dan nanti ketika mengembalikan juga dalam keadaan full. Kami sangat senang, karena prosesnya cepat dan pemilik percaya sepenuhnya pada pelanggan. Dengan mengendarai motor, kami memulai perjalanan menuju kota Songkhla. Kami mengambil jalan utama semacam highway namun harus lewat dalam kota dahulu. Setelah sampai jalan utama kami melaju melewati Khlong Hae Floating Market, namun tidak mampir. Jalanan besar dan bagus, meski di beberapa bagian bergelombang. Tujuan pertama kami adalah The Central Mosque of Songkhla. Masjid Agung Songkhla yang juga difungsikan sebagai Islamic Center. Bangunan dan tata lokasinya mirip Taj Mahal, hanya mirip saja. Kami berhenti sebentar, mengamati dari berbagai sisi, mengambil foto lalu lanjut berkendara.
Tujuan kami adalah Songkhla Old Town. Kota tua yang mana struktur dan bangunannya masih dipertahankan. Sebelum masuk ke area kota tua, kami mampir membeli durian yang dijajakan di pinggir jalan. Dengan harga 360 Baht, kami dapat satu box kecil yang masih fresh dan langsung kami habiskan. Berikutnya, ada pemandangan menarik, yaitu perahu-perahu nelayan yang sedang merapat di sebuah dermaga kecil. Kami berhenti sebentar, ambil foto lalu lanjut. Tak lama kami sampai di area kota tua. Di sini jalan dan gangnya lumayan kecil, oleh karena itu hampir semuanya dibuat satu arah. Banyak gedung lawas berjejer. Wisatawan umumnya berjalan kaki menelusuri gang-gang. Kami sendiri berkeliling motoran pelan-pelan. Setelah akhirnya sampai di Gate (gerbang kota tua), kami kembali menyusuri gang untuk mencari warung mie yang lumayan legend. Warung mie yang kami datangi termasuk lawas, dikelola oleh dan sudah 3 generasi. Di sini saya memesan sup mie sementara istri saya memilih bakso tanpa kuah. Rasanya menyegarkan dengan bumbu yang tidak terlalu nendang dan membuat kami terlalu kenyang. Akhirnya kami putuskan untuk segera berkendara agar dapat angin segar dan menuju ke pantai Samila. Rupanya istri saya masih merasa terlalu kenyang sehingga cukup duduk di pinggir pantai. Saya sendiri jalan-jalan sekitar pantai hingga ke ujung di mana patung Putri Duyung yang ikonik itu berada. Tak berapa lama di sini, segera lanjut berkendara untuk balik ke kota Hatyai. Kami sengaja ambil jalur berbeda dan sedikit lebih cepat menuju hotel. Di tengah perjalanan melewati Municipal Park, sebuah taman wisata. Dari taman ini hotel tidak terlalu jauh. Meski demikian, kami harus segera mengembalikan motor sebelum jam sewa berakhir. Karena tidak mengisi penuh bensin waktu mengembalikan, maka kami membayar 60 Baht sebagai gantinya.
Catatatan: ada dua kota singgah yang banyak wisatawannya, yaitu pusat kota Hatyai dan kota Songkhla. Keduanya menawarkan atraksi berbeda tetapi sama-sama panas. Hatyai kota besar dengan atraksi sebagian besar adalah belanja seperti mall, pasar tradisional, dan pasar malam, tetapi ada juga taman dan kuil. Banyak orang memborong oleh-oleh di sini. Sementara Songkhla, khusus di area kota tuanya menawarkan konstruksi kota lama lengkap dengan gang, warung, dan toko serta tidak jauh dari pantai Samila. Bahasa Indonesia dapat dipahami oleh sebagian besar penduduk Muslim. Ada yang sangat lancar, lumayan lancar, dan mengerti sedikit saja. Banyak terdapat makanan halal di sini. Tempat ibadah paling banyak adalah Wat, namun ada juga Masjid dan Kelenteng. Mesti membawa uang Baht seperlunya dahulu sebab di bandara tidak ada penukaran uang. Money exchange ada di mall dan sekitaran Lee Garden Plaza di Hatyai, dan kota tua di Songkhla. (**)







Wah menyenangkan sekali, jalan2 bsm istri di penghujung tahun.
ReplyDelete👍
DeleteTernyata dokumentasi tidak hanya foto toto. Ditulis dideskripsikan lebih asyik dibaca. Dan pembacapun berimajinasi seakan ikut jalan jalan ke sana. Selain itu bisa dijadikan semacam tutorial jika akan ke sana. Josss pokokmen.
ReplyDelete👍
Delete