29.3.26

5 Jam di Wonogiri

Wonogiri sekarang ini menjadi salah satu destinasi menarik bagi wisatawan di Jawa Tengah. Apalagi, PT KAI menyediakan transportasi murah berupa Kereta Api Batara Kresna Solo-Wonogiri PP, sehari 2 kali perjalanan. Selain itu, juga ada bus Trans Jateng. Jadi tinggal pilih mau pakai moda transportasi apa. Karena libur lebaran ini saya bersama istri dan ponakan berada di Solo selama 3 hari, maka kami putuskan di salah satu harinya untuk ke Wonogiri. Kami datang di Solo tanggal 26 Maret dan berangkat menuju Wonogiri pada tanggal 27 Maret pukul 06.00 dari Stasiun Purwosari dan sampai di stasiun tujuan pada pukul 07.00. Harga tiket sangat murah, yaitu Rp. 4000,- untuk sekali jalan dan sudah mendapatkan tempat duduk lega, komposisi 2-2, serta gerbong ber AC yang dingin. Kereta berjalan melewati tengah kota Solo di jalan Slamet Riyadi. Berhenti di Stasiun Solo Kota, SukoharjoPasarnguter, dan terakhir Wonogiri. Perjalanan cukup menyenangkan tetapi sayang kaca jendela terlalu tebal dan agak berwarna sehingga pemandangan tidak terlalu jelas terlihat. Samar-samar dan malah menimbulkan kesan vintage. Penumpang cukup ramai dan sesuai jadwal, tepat pukul 07.00 sampai di tujuan. Persis di depan stasiun terdapat pasar yang dulunya adalah terminal. Segera saja kami langsung blusukan. Tujuannya jelas kuliner tradisional. Di sini kami membeli pecel legendar, aneka gorengan, jajan pasar, dan jenang campur sebelum akhirnya mampir di warung lontong opor legend, Mbah Bhet. Ponakan ngemil jajanan, istri pilih bubur pedas, dan saya lontong opor. Warung yang sudah ada sejak 1980-an ini rasa makanannya enak dan patut dicoba.

Setelah cukup mengisi perut, saatnya mencari angkot untuk menuju Waduk Gadjah Mungkur. Di depan stasiun banyak angkot yang bersedia antar-jemput dengan harga Rp. 20.000,- per orang. Tapi kami minta ke sopir untuk carter saja seharga Rp. 150.000. Setelah deal, langsung menuju waduk dengan perjalanan sekira 15 menit saja. Tiket masuk Rp. 25.000,- yang menurut kami agak sedikit mahal, tetapi mungkin karena masih lebaran ya jadi wajarlah. Benar pula, setelah masuk lokasi tidak banyak wahana gratis yang dapat kami manfaatkan selain ada undian di tiket masuk tersebut, hehehe. Di waduk ini, kita mesti bayar tiket lagi Rp. 10.000,- kalau mau naik ke jembatan kaca yang mana pintu masuk dan keluarnya sama. Jadinya, jalan naik, melewati jembatan kaca, foto-foto, trus balik lagi. Pintu keluar sebenarnya ada, jadi kita tidak perlu balik, tetapi saat itu ditutup. Tak lama di sini, kami turun dan menuju ke penyewaan boat. Ada 2 opsi untuk boat, jalur pendek menuju karamba Rp. 100.000,- dan jalur panjang menuju pintu waduk Rp. 150.000,-. Kami ambil jalur panjang justru karena pengemudi boatnya  tidak bisa menjelaskan dengan fasih pengalaman apa saja yang bisa kami dapatkan kalau naik boat. Artinya, dia jujur, tidak memberikan ekspektasi atau kata-kata bombastis seperti para marketer. Cukup seru perjalanan boat karena bapak pengemudi yang ramah itu beratraksi meliuk-liukkan boatnya hingga kami kegirangan. Sampai di dekat pintu air, boat berhenti, mengambil foto, mengamati sekitar, ngobrol sedikit tentang bendungan, debit air, pengaruh hujan, musim kering, kecamatan-kecamatan di sekeliling waduk, dan setelah itu kembali ke dermaga awal. Menurut saya, harga sewa boat cukup adil dengan pengalaman dan keramahan yang diberikan.
 
Lepas dari dermaga boat, jalan kaki menuju parkiran di mana angkot menunggu. Tanpa belanja apapun, kami jalan terus. Sesampai parkiran sopir menghilang dan kami lupa nomor angkotnya. Untung saja ada sopir angkot lain yang segera tahu angkot mana yang kami tumpangi karena kami angkot terakhir dari stasiun. Akhirnya ditelponlah sopir tersebut yang rupanya malah pulang ke rumah. Dari waduk kami langsung minta diantar ke pasar. Di tengah perjalanan angkot menaikkan 2 penumpang yang begitu mau bayar langsung kami bilang kalau angkot ini gratis karena sudah kami carter. Sopir hanya bisa senyum kecut, karena sebenarnya tidaklah sopan mengambil penumpang dan menerima uang tarif di mobil yang sudah disewa, tetapi mungkin karena jarang angkot lewat, kami cukup mengerti. Ternyata, pasar yang kami tuju, Pasar Kota Wonogiri, mengalami kebakaran sehingga dibuatkan pasar sementara yang areanya sampai di depan stasiun (terminal bus). Di depan pasar terdapat toko oleh-oleh khas Wonogiri. Di sini istri saya membeli mete. Selepas itu, jalan melewati los-los pasar. Kaki berhenti di warung bakso Pak Gito. Semua kami memesan bakso yang rasanya di atas rata-rata. Karena di tengah pasar, maka panas bakso pun di atas rata-rata sebab atap warung yang pendek. Sungguh menyenangkan, makan bakso bonus keringat melimpah. Dari sini kami kemudian jalan kaki ke stasiun yang ruang tunggunya belum buka. Alhasil kembali mampir di warung, kali ini di bakso Derogab. Tujuannya jelas hanya duduk menunggu stasiun buka, tetapi berasa gak enak kalau tidak memesan makanan. Akhirnya pesan minuman dan 1 mangkok bakso untuk ramai-ramai. Stasiun buka sekira 45 menit sebelum kereta berangkat. 

Tepat jam 12.00 kereta berangkat kembali menuju Solo dan 5 jam di Wonogiri cukuplah memberi kesan. Mungkin lain waktu bisa lebih lama dengan kombinasi moda transport kereta api dan bus, jadi bisa seharian penuh. (**)

3.1.26

Jalan dan Kulineran di Solo

Kota Solo atau Surakarta tidak jauh letaknya dari Jogja. Kalau naik KRL waktu tempuhnya adalah 1 jam, tetapi kalau pakai kereta api jarak jauh paling hanya 45 menit. Suasana Solo dan Jogja agak mirip namun sejatinya berbeda. Jogja sudah cukup macet dan terlalu ramai, sementara Solo masih bisa ditolerir kemacetannya dan tidak terlalu hiruk-pikuk manusia. Karena suasananya yang demikian, saya, istri dan keponakan seringkali ke Solo di hari libur atau Sabtu dan Minggu. Selain untuk menghindar dari keramaian dan macetnya Jogja, Solo juga menarik untuk dikunjungi karena memiliki beberapa tempat legendaris dan kulinernya juga beragam. Pada libur tahun baru ini, sebelum anak-anak masuk sekolah, saya dan istri mengajak keponakan ke Solo 2 hari semalam. Kami berangkat Sabtu (3/01/26) pagi menggunakan kereta Sancaka. Tiba di Stasiun Solo Balapan pukul 07.30. Kami langsung menuju ke Kampung Wisata Batik Kauman menggunakan Gocar. Di kampung ini, berjalan kaki melihat tata bangunan dan bentuknya yang masih mempertahankan kelawasan. Banyak lokasi menarik untuk menjadi background foto. Di kampung ini, industri batik rumahan banyak berdiri sehingga pengunjung dapat membeli langsung dan bahkan bisa melihat proses serta ikut kursus pembuatannya. Karena kami belum sarapan dari Jogja, maka di sini membeli makanan yang dijajakan oleh ibu-ibu di tengah kampung. Saya membeli jenang, Gendis dan Keisya (keponakan) membeli siomay, dan istri saya membeli sate ayam serta jajanan khas Solo, yaitu cabuk rambak. Serasa tidak puas, kaki melangkah menuju ke warung makan yang menjajakan makanan rumahan. Saya ambil nasi dan sayur tongkol lombok ijo, Istri saya ayam kuah gurih telur asin, dan keponakan saya sup matahari. Semuanya enak dan rasanya khas. Setelah perut terisi kami susuri gang-gang yang ada, dan sebelum keluar kampung, istri saya membeli es puter.

Dari kampung ini, kami lanjut berjalan kaki pelan-pelan menuju ke Pasar Gede. Karena sedikit agak jauh dan perut telah terisi, beristirahatlah sebentar di halaman depan Balai Kota. Duduk-duduk di bawah pohon sambil mengamati lalu-lalang kendaraan. Jalan kaki kemudian berlanjut dan tidak lama sudah sampai Pasar Gede. Namun sebelum itu mengambil foto bangunan kelenteng Tien Kok Sie yang ada di sebelahnya. Berikutnya, langsung blusukan di dalam pasar. Hanya berjalan sambil lihat-lihat barang jualan, sampai satu titik di mana istri saya tertarik untuk membeli jeruk kumkuat dan rambak sapi. Sedianya akan membeli dawet telasih Bu Dermi, tetapi karena antrian mengular, maka niat kami urungkan. Begitu keluar dari pasar pintu utara, keponakan saya membeli Bakso Juventus, istri saya membeli gorengan, dan saya belanja di Kopi Podjok. Dari pasar kami lanjut jalan kaki ke utara menuju Toko Asia Baru yang kondang itu. Di toko ini istri dan keponakan saya berbelanja aneka makanan sementara saya menunggu di warung kopi tenda di samping toko.

Selesai kegiatan berbelanja, waktu menunjukkan pukul 11 lebih. Saatnya menuju hotel Sala View tempat kami menginap. Sesampai hotel kamar belum dibersihkan sehingga mesti menunggu. Waktu tunggu digunakan untuk berjalan kaki menuju Lana Seduh dan Singgah Cafe yang tidak terlalu jauh jaraknya. Di sini saya memesan kopi susu gula aren, Gendis memesan matcha, Keisya yogurt leci, sementara istri saya teh sereh dan rose sorbet. Snack nya adalah ubi creme brullee dan potato platter. Sambil minum dan ngemil, kami main uno, membaca buku, dan ngobrol. Begitu jam menunjuk pukul 13.30 kami kembali ke hotel dan kamar sudah siap. Sesampai kamar kami semua rehat hingga sore. Pukul 17.30, bersiap dan menuju ke Osteria Pizzane. Di sini kami beli pizza, cheescake, dan tiramizu. Karena pengunjung ramai, begitu selesai langsung ke Pakuwon Mall Solo Baru. Di mall ini cuma jalan-jalan, jajan snack, dan membeli pernak-pernik. Sekira pukul 22.00 kembali ke hotel untuk tidur. Paginya sebelum kembali ke Jogja kami sempatkan untuk jalan-jalan di Car Free Day di mana saya sempatkan untuk makan jadah bakar. (**)

Catatan: banyak lokasi dan kulineran menarik di kota Solo yang bisa dikunjungi tetapi tidak atau belum sempat kami kunjungi selama beberapa kali jalan ke Solo. Mungkin lain waktu. (**) 

31.12.25

Malam Tahun Baru Kota Singa

Perjalanan pulang saya dan istri ke Jogja dari Hatyai harus transit dahulu di Singapura. Kebetulan jadwal terbangnya adalah 31 Desember 2025 dan transit semalam-sehari, sehingga baru terbang ke Jogja pada 1 Januari 2026. Jadi kami transit setahun. Pesawat Scoot Air dijadwalkan terbang dari Hatyai pukul 14.00 namun kurang 30 menit sudah diberangkatkan karena penumpang sudah masuk semua. Mendarat di Changi pukul 4 sore lebih sedikit. Tidak terlalu repot untuk mengurus imigrasi karena sudah autogate dan penukaran uang juga mudah. Saya dan istri langsung membeli EZ-Link Card untuk perjalanan ke hotel menggunakan MRT. Sesampai di Habyt Clarke Quay Hotel, kami harus sabar sebentar sebab lampu kamar masih dalam perbaikan. Setelah bisa masuk, segera barang kami letakkan, dan langsung keluar jalan kaki mencari makan berupa sup iga di seputaran Clarke Quay. Dari sini tidak segera kembali ke hotel, melainkan lanjut ke Haus Cheesecake. Rupanya kue habis dan harus menunggu 1 jam. Waktu kami gunakan mencari minuman di Maxwell Food Center. Pada jam 20.30 kami sudah bisa pesan kuenya dan memang rasanya keju banget, enak. Tidak lama toko tutup, jadi kami putuskan kembali ke hotel untuk rehat, sambil membeli perbekalan di mart Cheers. Kemudian, sekira jam 11 malam kami turun berjalan kaki. Sedianya akan menyaksikan perayaan pergantian tahun di Merlion Park. Namun rupanya, kami cukup terlambat, karena area Merlion sudah terpagari dan dijaga ketat. Akhirnya kami ikut berdiri dengan orang-orang yang lain di jalan samping Hotel Fullerton. Dari sini kami bisa menyaksikan kembang api yang dilontarkan mulai sebelum hingga pas pergantian tahun. Atraksi kembang api berjalan cukup lama dan semarak menandai mulainya tahun 2026. Selamat Tahun Baru. (**)

27.12.25

Hatyai

Di penghujung tahun ini, saya dan istri mencoba ke Hatyai. Tujuan sederhananya adalah melihat selintas budaya keseharian Thai-Melayu karena memang di wilayah ini merupakan perbatasan antara Thailand dan Malaysia. Mungkin menarik. Rencana kami adalah melihat bangunan lama, persinggungan antarwarga, dan tentu saja kulinernya. Kami berangkat dari Jogja menggunakan Airasia pada tanggal 27 Desember 2025 dan transit semalam di Kuala Lumpur. Pesawat berangkat pukul 17.20 waktu Jogja dan mendarat sekitar pukul 21.00 waktu Malaysia. Begitu keluar imigrasi kami menukarkan uang sekira cukup untuk kebutuhan semalam sehari, kemudian langsung menuju Stasiun KL Sentral. Perjalanan sambung dengan LRT menuju ke Pasar Seni di mana Hotel Travelodge berada di sekitar area tersebut. Kami menginap di sini. Dan, begitu sampai hotel kami langsung tidur. Keesokan harinya (28/12/2025) mencari sarapan di seputar pasar seni, persiapan, dan setelah itu langsung menuju bandara. Kami mencoba menggunakan 4 line kereta menuju bandara dengan maksud agar lebih irit karena kereta ekspress yang langsung lumayan mahal. Sampai di KLIA 2 langsung check in, mengisi perut dan menunggu boarding. Pesawat terbang pukul 18.20 dan mendarat di Hatyai pada pukul 18.30. Rupanya di bandara tidak ada penukaran uang sehingga terpaksa kami menuju ATM dan kemudian memesan taksi karena bus mini sudah tidak tersedia. Tujuan bukan langsung ke hotel melainkan ke Central Hatyai.

Sebuah mall yang lumayan besar dan di sini kami sempatkan menukar uang mumpung ada money changer. Di lantai bawah ternyata ada semacam jualan berjejer seperti pasar. Kami turun untuk mengisi perut karena sepanjang penerbangan tertidur. Pemandangan khas Thai-Melayu langsung kami dapatkan karena banyak pengunjung dan penjual berbusana Muslim serta bisa memahami Bahasa Indonesia. Lumayan lengkap yang ditawarkan. Kami mencoba sup iga dan bebek panggang serta minum es kalamansi dan pandan sereh. Rasanya enak dan membuat perut penuh. Selepas itu membeli air mineral dan kue lalu langsung jalan kaki menuju Crystal Hotel yang letaknya di seberang mall. Agenda kami jelas istirahat dan perjalanan akan kami lanjutkan esok pagi.

10.5.25

Banyuwangi: Sekilas Kuliner dan Pantai Bagian Utara

Pada libur minggu panjang kali ini, saya dan istri berniat ke Banyuwangi. Kebetulan tugas istri mengantar wisatawan ke Bali, jadi dalam perjalanan pulang bisa singgah di Banyuwangi dan saya menyusul dari Jogja. Dari Stasiun Tugu pada hari Sabtu 10 Mei 2025 saya berangkat menggunakan kereta Wijaya Kusuma. Tepat pada pukul 18.32 kereta berangkat dengan perjalanan sekira 12 jam dan cocok untuk tidur. Kereta tiba di Stasiun Ketapang pada Minggu pagi pukul 05.40. Begitu keluar stasiun, saya pesen gojek pangkalan menuju Hotel Luminor di mana istri sudah menunggu. Langsung kami sarapan trus rehat hingga waktunya check out. Dari hotel ini, selanjutnya kami naik taksi online menuju ke warung makan legendaris, yaitu Warung Bik Ati yang menyediakan menu spesial rawon. Sekira 10 menit kami telah sampai. Saya pesan rawon buntut dan istri saya rawon kisi (otot). Tidak salah kiranya jika warung ini terkenal karena memang rawonnya enak dengan kuah tidak terlalu kental namun menyegarkan dan sambal yang pedas sangat. Ketika kami makan, para tamu berdatangan, parkir mobil berderet dan hampir semuanya berplat  nomor luar kota. Kami cukup lama di sini sekalian menunggu waktu untuk check in di Hotel Blambangan, pusat kota. Rupanya hujan turun sehingga rencana untuk jalan sore ke pantai kami tangguhkan.

Selepas hujan reda, hari mulai gelap, kami jalan kaki menuju resto Srengenge Wetan yang sedang hit. Rupanya pengunjung sudah berjubel dan beberapa orang berada di waiting list. Akhirnya kami putuskan menuju ke Ratu Osing, resto sekaligus bakery. Di sini tidak langsung makan melainkan observasi oleh-oleh yang lumayan lengkap. Setelah cukup puas, baru pesan makanan. Tidak terlalu istimewa menunya namun enak rasanya. Tumis pokcoy, udang bakar, tahu goreng dan gurame sambal matah kami pilih. Hampir semuanya bisa dijumpai di kota lain. Namun, es gosrok (bingsoo) yang dihidangkan selepas makan besar sangatlah istimewa. Es gosrok rasa vanila dengan topping boba, jelly dan ice cream terasa lembut dan menyegarkan. Selain itu suasana resto juga menyenangkan ditambah dengan adanya live music. Cukup lama kami di sini sembari merencanakan tujuan jalan untuk besok pagi. Setelah merasa cukup, rencana yang sedianya akan jalan kaki kembali ke hotel tidak jadi karena perut penuh. Dengan taksi online akhirnya ke hotel kembali dan rehat lagi. Besok bangun pagi rencana jalan ke pantai.

26.1.25

Mbolang di Changi

Penerbangan Jogja-Phuket yang kami pilih bertransit di Singapura. Pada saat keberangkatan pada tanggal 23 Januari 2025 mesti singgah selama 5 jam. Tidak banyak yang kami lakukan selain mbolang di Terminal 1 Changi Airport. Hendak pergi ke kota merasa waktunya nanggung. Selain itu kondisi fisik saya tidak fit serta kepala sedikit pusing. Alhasil saya dan istri jalan mondar-mandir dari gedung terminal ke Jewel kembali ke gedung terminal lagi. Waktu tunggu pesawat yang terasa cukup lama membuat kami mesti melakukan aktivitas agar tidak bosan. Tetapi karena kondisi tubuh kurang baik, maka yang dilakukan kemudian adalah observasi tempat istirahat yang enak.  Rupanya ruang khusus untuk istirahat penumpang sudah penuh sementara kursi-kursi tunggu pun demikian. Bahkan di setiap cafe juga penuh. Akhirnya mencoba ke taman yang ada di luar ruangan yang disediakan untuk para perokok. Ada beberapa kursi kosong dan di sinilah kami duduk dalam waktu cukup lama. Karena ternyata hawanya semakin lama semakin panas, kembali lagi masuk gedung dan tetap saja belum ada kursi kosong. Dengan segala ketaknyamanan ini kami memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu dekat gerbang keberangkatan, meski jadwal terbang masih cukup lama. Untung ada 2 tempat duduk kosong di pojokan. Di sini saya tetapkan untuk tidur menunggu gate boarding dibuka. Pada saat transit kepulangan pada tanggal 26 Januari 2025, kami kembali di Terminal 1 ini dan langsung menuju ke Jewel untuk mengisi perut. Kali ini waktu lay over lumayan lama karena pesawat kami terbang ke Jogja keesokan harinya. Akan tetapi, sudah sejak awal keberangkatan, kami sengaja tidak memesan hotel untuk menginap. Jadi tetap akan menghabiskan waktu di Changi. Bagaimana kondisinya, ya kami belum tahu.

23.1.25

Old Town Phuket, Pantai, dan Siam Niramit


Perjalanan ke Phuket kami mulai dari Stasiun Tugu Jogja pada 23 Januari 2025 pukul 05.30 menuju ke Bandara YIA. Waktu pagi dipilih agar bisa sarapan dengan santai di bandara karena pesawat Scoot baru akan terbang pada pukul 09.45. Selepas check in dan sarapan, kami masuk ruang tunggu. Pesawat terbang tepat waktu dan sesuai rutenya, kami mesti lay over di Singapura sekira 5 jam. Tidak banyak yang kami lakukan di Changi Airport Terminal 1 selain urus imigarsi untuk keluar bandara sebentar, makan siang di food court area Jewel dan jalan-jalan menghabiskan waktu di dalam area bandara. Tepat pukul 18.30 waktu setempat, pesawat terbang dan turun di Phuket International Airport pada pukul 19.30. Seperti umumnya bandara di negara Asean yang belum secanggih Singapura, antrean imigrasi padat mengular. Januari memang terhitung masih peak season meski tidak sepuncak bulan Desember. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk urusan imigrasi ini. Begitu selesai, segeralah ritual tukar uang dilakukan dan langsung turun ke terminal kedatangan, jalan kaki menuju terminal domestik di mana bus umum ke kota berada. Sedkit berlari karena harus mengejar jadwal bus, sebab kalau terlambat bus baru akan ada 1 jam berikutnya. Benar saja, kami adalah penumpang terakhir yang naik dan bus langsung tancap gas. Perjalanan sekira 50 menit dan sampailah di area Old Town. Kami turun, jalan kaki menuju Fulfill Hostel tempat menginap sembari membeli kebab dan minuman kaleng di pinggir jalan sekedar pengganjal perut. Old Town di malam hari di atas jam 21.00 sudah banyak kedai tutup meski sebagian masih buka sampai jam 23.00. Suasana kota tua ini terasa sejuk waktu malam, jalanan tampak bersih, dan bangunan-bangunan kuno masih berdiri berjajar. Tak lama sampailah kami di hostel, urus administrasi, dan langsung menuju kamar. Selepas meletakkan tas, langsung saja kembali keluar untuk mencari makan. Saya hanya ingin makanan berkuah malam itu untuk menghangatkan badan, karena kondisi kurang fit dan kepala agak pusing. Namun yang buka sampai malam umumnya cafe dan resto western. Satu resto makanan khas Thailand masih buka, kami datangi dan pelayannya langsung memasang tanda "close". Untunglah tidak jauh dari situ ada warung makan Wanlamun & Egg e Egg yang masih buka dan ramai pembeli. Di sini saya memesan bihun kuah dan teh hangat sementara istri saya pesan nasi ketan dan mangga serta minum kelapa muda. Rasanya lumayan enak meski kurang nendang dan cukup untuk mengisi perut dan membuat badan hangat serta berkeringat. Selapas makan, membeli air mineral dan snack di mini mart lalu kembali ke hostel dan segera rehat karena kaki dan badan sudah lelah. Kami tidur, mengisi ulang energi untuk jalan-jalan esok pagi.

5 Jam di Wonogiri

Wonogiri sekarang ini menjadi salah satu destinasi menarik bagi wisatawan di Jawa Tengah. Apalagi, PT KAI menyediakan transportasi murah ber...