3.1.26

Jalan dan Kulineran di Solo

Kota Solo atau Surakarta tidak jauh letaknya dari Jogja. Kalau naik KRL waktu tempuhnya adalah 1 jam, tetapi kalau pakai kereta api jarak jauh paling hanya 45 menit. Suasana Solo dan Jogja agak mirip namun sejatinya berbeda. Jogja sudah cukup macet dan terlalu ramai, sementara Solo masih bisa ditolerir kemacetannya dan tidak terlalu hiruk-pikuk manusia. Karena suasananya yang demikian, saya, istri dan keponakan seringkali ke Solo di hari libur atau Sabtu dan Minggu. Selain untuk menghindar dari keramaian dan macetnya Jogja, Solo juga menarik untuk dikunjungi karena memiliki beberapa tempat legendaris dan kulinernya juga beragam. Pada libur tahun baru ini, sebelum anak-anak masuk sekolah, saya dan istri mengajak keponakan ke Solo 2 hari semalam. Kami berangkat Sabtu (3/01/26) pagi menggunakan kereta Sancaka. Tiba di Stasiun Solo Balapan pukul 07.30. Kami langsung menuju ke Kampung Wisata Batik Kauman menggunakan Gocar. Di kampung ini, berjalan kaki melihat tata bangunan dan bentuknya yang masih mempertahankan kelawasan. Banyak lokasi menarik untuk menjadi background foto. Di kampung ini, industri batik rumahan banyak berdiri sehingga pengunjung dapat membeli langsung dan bahkan bisa melihat proses serta ikut kursus pembuatannya. Karena kami belum sarapan dari Jogja, maka di sini membeli makanan yang dijajakan oleh ibu-ibu di tengah kampung. Saya membeli jenang, Gendis dan Keisya (keponakan) membeli siomay, dan istri saya membeli sate ayam serta jajanan khas Solo, yaitu cabuk rambak. Serasa tidak puas, kaki melangkah menuju ke warung makan yang menjajakan makanan rumahan. Saya ambil nasi dan sayur tongkol lombok ijo, Istri saya ayam kuah gurih telur asin, dan keponakan saya sup matahari. Semuanya enak dan rasanya khas. Setelah perut terisi kami susuri gang-gang yang ada, dan sebelum keluar kampung, istri saya membeli es puter.

Dari kampung ini, kami lanjut berjalan kaki pelan-pelan menuju ke Pasar Gede. Karena sedikit agak jauh dan perut telah terisi, beristirahatlah sebentar di halaman depan Balai Kota. Duduk-duduk di bawah pohon sambil mengamati lalu-lalang kendaraan. Jalan kaki kemudian berlanjut dan tidak lama sudah sampai Pasar Gede. Namun sebelum itu mengambil foto bangunan kelenteng Tien Kok Sie yang ada di sebelahnya. Berikutnya, langsung blusukan di dalam pasar. Hanya berjalan sambil lihat-lihat barang jualan, sampai satu titik di mana istri saya tertarik untuk membeli jeruk kumkuat dan rambak sapi. Sedianya akan membeli dawet telasih Bu Dermi, tetapi karena antrian mengular, maka niat kami urungkan. Begitu keluar dari pasar pintu utara, keponakan saya membeli Bakso Juventus, istri saya membeli gorengan, dan saya belanja di Kopi Podjok. Dari pasar kami lanjut jalan kaki ke utara menuju Toko Asia Baru yang kondang itu. Di toko ini istri dan keponakan saya berbelanja aneka makanan sementara saya menunggu di warung kopi tenda di samping toko.

Selesai kegiatan berbelanja, waktu menunjukkan pukul 11 lebih. Saatnya menuju hotel Sala View tempat kami menginap. Sesampai hotel kamar belum dibersihkan sehingga mesti menunggu. Waktu tunggu digunakan untuk berjalan kaki menuju Lana Seduh dan Singgah Cafe yang tidak terlalu jauh jaraknya. Di sini saya memesan kopi susu gula aren, Gendis memesan matcha, Keisya yogurt leci, sementara istri saya teh sereh dan rose sorbet. Snack nya adalah ubi creme brullee dan potato platter. Sambil minum dan ngemil, kami main uno, membaca buku, dan ngobrol. Begitu jam menunjuk pukul 13.30 kami kembali ke hotel dan kamar sudah siap. Sesampai kamar kami semua rehat hingga sore. Pukul 17.30, bersiap dan menuju ke Osteria Pizzane. Di sini kami beli pizza, cheescake, dan tiramizu. Karena pengunjung ramai, begitu selesai langsung ke Pakuwon Mall Solo Baru. Di mall ini cuma jalan-jalan, jajan snack, dan membeli pernak-pernik. Sekira pukul 22.00 kembali ke hotel untuk tidur. Paginya sebelum kembali ke Jogja kami sempatkan untuk jalan-jalan di Car Free Day di mana saya sempatkan untuk makan jadah bakar. (**)

Catatan: banyak lokasi dan kulineran menarik di kota Solo yang bisa dikunjungi tetapi tidak atau belum sempat kami kunjungi selama beberapa kali jalan ke Solo. Mungkin lain waktu. (**) 

31.12.25

Malam Tahun Baru Kota Singa

Perjalanan pulang saya dan istri ke Jogja dari Hatyai harus transit dahulu di Singapura. Kebetulan jadwal terbangnya adalah 31 Desember 2025 dan transit semalam-sehari, sehingga baru terbang ke Jogja pada 1 Januari 2026. Jadi kami transit setahun. Pesawat Scoot Air dijadwalkan terbang dari Hatyai pukul 14.00 namun kurang 30 menit sudah diberangkatkan karena penumpang sudah masuk semua. Mendarat di Changi pukul 4 sore lebih sedikit. Tidak terlalu repot untuk mengurus imigrasi karena sudah autogate dan penukaran uang juga mudah. Saya dan istri langsung membeli EZ-Link Card untuk perjalanan ke hotel menggunakan MRT. Sesampai di Habyt Clarke Quay Hotel, kami harus sabar sebentar sebab lampu kamar masih dalam perbaikan. Setelah bisa masuk, segera barang kami letakkan, dan langsung keluar jalan kaki mencari makan berupa sup iga di seputaran Clarke Quay. Dari sini tidak segera kembali ke hotel, melainkan lanjut ke Haus Cheesecake. Rupanya kue habis dan harus menunggu 1 jam. Waktu kami gunakan mencari minuman di Maxwell Food Center. Pada jam 20.30 kami sudah bisa pesan kuenya dan memang rasanya keju banget, enak. Tidak lama toko tutup, jadi kami putuskan kembali ke hotel untuk rehat, sambil membeli perbekalan di mart Cheers. Kemudian, sekira jam 11 malam kami turun berjalan kaki. Sedianya akan menyaksikan perayaan pergantian tahun di Merlion Park. Namun rupanya, kami cukup terlambat, karena area Merlion sudah terpagari dan dijaga ketat. Akhirnya kami ikut berdiri dengan orang-orang yang lain di jalan samping Hotel Fullerton. Dari sini kami bisa menyaksikan kembang api yang dilontarkan mulai sebelum hingga pas pergantian tahun. Atraksi kembang api berjalan cukup lama dan semarak menandai mulainya tahun 2026. Selamat Tahun Baru. (**)

27.12.25

Hatyai

Di penghujung tahun ini, saya dan istri mencoba ke Hatyai. Tujuan sederhananya adalah melihat selintas budaya keseharian Thai-Melayu karena memang di wilayah ini merupakan perbatasan antara Thailand dan Malaysia. Mungkin menarik. Rencana kami adalah melihat bangunan lama, persinggungan antarwarga, dan tentu saja kulinernya. Kami berangkat dari Jogja menggunakan Airasia pada tanggal 27 Desember 2025 dan transit semalam di Kuala Lumpur. Pesawat berangkat pukul 17.20 waktu Jogja dan mendarat sekitar pukul 21.00 waktu Malaysia. Begitu keluar imigrasi kami menukarkan uang sekira cukup untuk kebutuhan semalam sehari, kemudian langsung menuju Stasiun KL Sentral. Perjalanan sambung dengan LRT menuju ke Pasar Seni di mana Hotel Travelodge berada di sekitar area tersebut. Kami menginap di sini. Dan, begitu sampai hotel kami langsung tidur. Keesokan harinya (28/12/2025) mencari sarapan di seputar pasar seni, persiapan, dan setelah itu langsung menuju bandara. Kami mencoba menggunakan 4 line kereta menuju bandara dengan maksud agar lebih irit karena kereta ekspress yang langsung lumayan mahal. Sampai di KLIA 2 langsung check in, mengisi perut dan menunggu boarding. Pesawat terbang pukul 18.20 dan mendarat di Hatyai pada pukul 18.30. Rupanya di bandara tidak ada penukaran uang sehingga terpaksa kami menuju ATM dan kemudian memesan taksi karena bus mini sudah tidak tersedia. Tujuan bukan langsung ke hotel melainkan ke Central Hatyai.

Sebuah mall yang lumayan besar dan di sini kami sempatkan menukar uang mumpung ada money changer. Di lantai bawah ternyata ada semacam jualan berjejer seperti pasar. Kami turun untuk mengisi perut karena sepanjang penerbangan tertidur. Pemandangan khas Thai-Melayu langsung kami dapatkan karena banyak pengunjung dan penjual berbusana Muslim serta bisa memahami Bahasa Indonesia. Lumayan lengkap yang ditawarkan. Kami mencoba sup iga dan bebek panggang serta minum es kalamansi dan pandan sereh. Rasanya enak dan membuat perut penuh. Selepas itu membeli air mineral dan kue lalu langsung jalan kaki menuju Crystal Hotel yang letaknya di seberang mall. Agenda kami jelas istirahat dan perjalanan akan kami lanjutkan esok pagi.

10.5.25

Banyuwangi: Sekilas Kuliner dan Pantai Bagian Utara

Pada libur minggu panjang kali ini, saya dan istri berniat ke Banyuwangi. Kebetulan tugas istri mengantar wisatawan ke Bali, jadi dalam perjalanan pulang bisa singgah di Banyuwangi dan saya menyusul dari Jogja. Dari Stasiun Tugu pada hari Sabtu 10 Mei 2025 saya berangkat menggunakan kereta Wijaya Kusuma. Tepat pada pukul 18.32 kereta berangkat dengan perjalanan sekira 12 jam dan cocok untuk tidur. Kereta tiba di Stasiun Ketapang pada Minggu pagi pukul 05.40. Begitu keluar stasiun, saya pesen gojek pangkalan menuju Hotel Luminor di mana istri sudah menunggu. Langsung kami sarapan trus rehat hingga waktunya check out. Dari hotel ini, selanjutnya kami naik taksi online menuju ke warung makan legendaris, yaitu Warung Bik Ati yang menyediakan menu spesial rawon. Sekira 10 menit kami telah sampai. Saya pesan rawon buntut dan istri saya rawon kisi (otot). Tidak salah kiranya jika warung ini terkenal karena memang rawonnya enak dengan kuah tidak terlalu kental namun menyegarkan dan sambal yang pedas sangat. Ketika kami makan, para tamu berdatangan, parkir mobil berderet dan hampir semuanya berplat  nomor luar kota. Kami cukup lama di sini sekalian menunggu waktu untuk check in di Hotel Blambangan, pusat kota. Rupanya hujan turun sehingga rencana untuk jalan sore ke pantai kami tangguhkan.

Selepas hujan reda, hari mulai gelap, kami jalan kaki menuju resto Srengenge Wetan yang sedang hit. Rupanya pengunjung sudah berjubel dan beberapa orang berada di waiting list. Akhirnya kami putuskan menuju ke Ratu Osing, resto sekaligus bakery. Di sini tidak langsung makan melainkan observasi oleh-oleh yang lumayan lengkap. Setelah cukup puas, baru pesan makanan. Tidak terlalu istimewa menunya namun enak rasanya. Tumis pokcoy, udang bakar, tahu goreng dan gurame sambal matah kami pilih. Hampir semuanya bisa dijumpai di kota lain. Namun, es gosrok (bingsoo) yang dihidangkan selepas makan besar sangatlah istimewa. Es gosrok rasa vanila dengan topping boba, jelly dan ice cream terasa lembut dan menyegarkan. Selain itu suasana resto juga menyenangkan ditambah dengan adanya live music. Cukup lama kami di sini sembari merencanakan tujuan jalan untuk besok pagi. Setelah merasa cukup, rencana yang sedianya akan jalan kaki kembali ke hotel tidak jadi karena perut penuh. Dengan taksi online akhirnya ke hotel kembali dan rehat lagi. Besok bangun pagi rencana jalan ke pantai.

26.1.25

Mbolang di Changi

Penerbangan Jogja-Phuket yang kami pilih bertransit di Singapura. Pada saat keberangkatan pada tanggal 23 Januari 2025 mesti singgah selama 5 jam. Tidak banyak yang kami lakukan selain mbolang di Terminal 1 Changi Airport. Hendak pergi ke kota merasa waktunya nanggung. Selain itu kondisi fisik saya tidak fit serta kepala sedikit pusing. Alhasil saya dan istri jalan mondar-mandir dari gedung terminal ke Jewel kembali ke gedung terminal lagi. Waktu tunggu pesawat yang terasa cukup lama membuat kami mesti melakukan aktivitas agar tidak bosan. Tetapi karena kondisi tubuh kurang baik, maka yang dilakukan kemudian adalah observasi tempat istirahat yang enak.  Rupanya ruang khusus untuk istirahat penumpang sudah penuh sementara kursi-kursi tunggu pun demikian. Bahkan di setiap cafe juga penuh. Akhirnya mencoba ke taman yang ada di luar ruangan yang disediakan untuk para perokok. Ada beberapa kursi kosong dan di sinilah kami duduk dalam waktu cukup lama. Karena ternyata hawanya semakin lama semakin panas, kembali lagi masuk gedung dan tetap saja belum ada kursi kosong. Dengan segala ketaknyamanan ini kami memutuskan untuk masuk ke ruang tunggu dekat gerbang keberangkatan, meski jadwal terbang masih cukup lama. Untung ada 2 tempat duduk kosong di pojokan. Di sini saya tetapkan untuk tidur menunggu gate boarding dibuka. Pada saat transit kepulangan pada tanggal 26 Januari 2025, kami kembali di Terminal 1 ini dan langsung menuju ke Jewel untuk mengisi perut. Kali ini waktu lay over lumayan lama karena pesawat kami terbang ke Jogja keesokan harinya. Akan tetapi, sudah sejak awal keberangkatan, kami sengaja tidak memesan hotel untuk menginap. Jadi tetap akan menghabiskan waktu di Changi. Bagaimana kondisinya, ya kami belum tahu.

23.1.25

Old Town Phuket, Pantai, dan Siam Niramit


Perjalanan ke Phuket kami mulai dari Stasiun Tugu Jogja pada 23 Januari 2025 pukul 05.30 menuju ke Bandara YIA. Waktu pagi dipilih agar bisa sarapan dengan santai di bandara karena pesawat Scoot baru akan terbang pada pukul 09.45. Selepas check in dan sarapan, kami masuk ruang tunggu. Pesawat terbang tepat waktu dan sesuai rutenya, kami mesti lay over di Singapura sekira 5 jam. Tidak banyak yang kami lakukan di Changi Airport Terminal 1 selain urus imigarsi untuk keluar bandara sebentar, makan siang di food court area Jewel dan jalan-jalan menghabiskan waktu di dalam area bandara. Tepat pukul 18.30 waktu setempat, pesawat terbang dan turun di Phuket International Airport pada pukul 19.30. Seperti umumnya bandara di negara Asean yang belum secanggih Singapura, antrean imigrasi padat mengular. Januari memang terhitung masih peak season meski tidak sepuncak bulan Desember. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk urusan imigrasi ini. Begitu selesai, segeralah ritual tukar uang dilakukan dan langsung turun ke terminal kedatangan, jalan kaki menuju terminal domestik di mana bus umum ke kota berada. Sedkit berlari karena harus mengejar jadwal bus, sebab kalau terlambat bus baru akan ada 1 jam berikutnya. Benar saja, kami adalah penumpang terakhir yang naik dan bus langsung tancap gas. Perjalanan sekira 50 menit dan sampailah di area Old Town. Kami turun, jalan kaki menuju Fulfill Hostel tempat menginap sembari membeli kebab dan minuman kaleng di pinggir jalan sekedar pengganjal perut. Old Town di malam hari di atas jam 21.00 sudah banyak kedai tutup meski sebagian masih buka sampai jam 23.00. Suasana kota tua ini terasa sejuk waktu malam, jalanan tampak bersih, dan bangunan-bangunan kuno masih berdiri berjajar. Tak lama sampailah kami di hostel, urus administrasi, dan langsung menuju kamar. Selepas meletakkan tas, langsung saja kembali keluar untuk mencari makan. Saya hanya ingin makanan berkuah malam itu untuk menghangatkan badan, karena kondisi kurang fit dan kepala agak pusing. Namun yang buka sampai malam umumnya cafe dan resto western. Satu resto makanan khas Thailand masih buka, kami datangi dan pelayannya langsung memasang tanda "close". Untunglah tidak jauh dari situ ada warung makan Wanlamun & Egg e Egg yang masih buka dan ramai pembeli. Di sini saya memesan bihun kuah dan teh hangat sementara istri saya pesan nasi ketan dan mangga serta minum kelapa muda. Rasanya lumayan enak meski kurang nendang dan cukup untuk mengisi perut dan membuat badan hangat serta berkeringat. Selapas makan, membeli air mineral dan snack di mini mart lalu kembali ke hostel dan segera rehat karena kaki dan badan sudah lelah. Kami tidur, mengisi ulang energi untuk jalan-jalan esok pagi.

24.12.24

Secuil Eropa Di Phu Quoc

Phu Quoc merupakan salah satu pulau di Vietnam yang dijadikan sebagai tujuan wisata. Di pulau ini dibangun beberapa wahana untuk menarik wisatawan. Saya bersama istri mencoba melihat sekilas Phu Quoc. Pada tanggal 24 Desember berangkat dan kembali ke HCMC tanggal 26 Desember 2024. Perjalanan dimulai dari Bandara Tan Son Nhat dengan menggunakan penerbangan murah Vietravel Airlines pada pukul 16.55 dan sampai di Phu Quoc International Airport pada pukul 18.10. Meski ada bus umum menuju kota, kami ambil taksi Xanh menuju Hotel An Phu. Selepas check in dan meletakkan barang, kami mencoba jalan kaki sekitaran hotel sambil mencari makan malam. Langkah terhenti di warung makan Mi Vit Tiem Loi Ty. Di warung ini saya memesan mi kuah dan istri saya memesan dim sum serta banh trang cac loai (rice paper yang diiris tipis-tipis dicampur mangga, jeruk, bubuk cabai, daun mint, dan telur puyuh). Rasa banh trang memang khas apalagi ada campuran irisan mangga dan daun mint. Setelah melahap habis semua makanan, kami mencoba melanjutkan jalan kaki. Tetapi tidak terlalu jauh jalannya, karena berniat akan mengobservasi keesokan hari. Menjelang sampai hotel, mampir dulu di cafe Highland Coffee. Di sini istri saya memesan es teh yang diberi krim dan biji bunga teratai (tra sen vang), sementara saya seperti biasa memesan es kopi susu. Tidak menghabiskan waktu lama, lanjut menyeberang jalan dan mampir di mini mart untuk membeli air minum. Segara setelahnya, menuju ke hotel karena kebetulan istri saya merasa kurang enak badan. Malam ini kami rehat dan perjalanan berlanjut esok.

Perjalanan keesokan harinya, dimulai selepas sarapan di hotel. Kami sewa motor dari hotel seharga 150.000 Dong per hari dan jam 10 pagi mulai berkendara, menuju ke bandara. Tujuan ke bandara adalah menanyakan perihal jaket istri saya yang tertinggal di pesawat yang kami tumpangi kemarin. Setelah petugas keamanan menanyakan pada maskapai, ternyata tidak ada barang tertinggal. Terpaksa mesti diikhlaskan. Dari bandara motor kami laju menuju jalur barat-selatan ke An Thoi. Jarak sekira 12 kilometer, dan di pertengahan jalan, berhenti dulu di warung untuk beli minuman karena cuaca panas. Lanjut perjalanan kemudian dengan gegas dan akhirnya sampailah di Sun World. Sebuah area wisata buatan yang didesain seperti kota bukit dan pantai di Eropa. Di area ini banyak gedung berjajar dengan bentuk dan komposisi artistik yang diperuntukkan sebagai hotel, resto, cafe, dan juga kantor serta wahana wisata. Replika beberapa landmark Eropa ada di sini. Wahana paling terkenal adalah kereta gantung yang melewati atas laut dan pulau-pulau. Nah, kami tidak bisa naik karena terlambat datang untuk jadwal pagi hari. Kalau mau menunggu jadwal berikutnya siang sampai sore, tapi kami tidak bisa sebab mesti menuju ke lokasi lain. Beberapa wahana menarik yang ditawarkan di sini adalah, pantai, taman bermain, anjungan untuk menikmati sunset, pasar malam, dan juga pertunjukan khusus yang diadakan di panggung arena pinggir pantai. Setelah kami merasa cukup mengobservasi, perjalanan berlanjut ke sisi barat-utara pulau. Kami ambil jalur lain melewati pinggir pantai. Pemandangannya indah, ada warung, kampung nelayan, perahu, tempat penjemuran ikan, dan hamparan pasir serta pohon nyiur. Namun tidak begitu jauh, jalanan mulai tidak beraspal, tanah merah. Hal ini membuat motor kami tidak bisa cepat karena harus menghindari cerukan tanah dan tonjolan batu, namun cukup mengasyikkan. Begitu lajur pinggir pantai habis, jalan mesti berbelok, melawati pinggir hutan dan perkampungan, kami lalu ambil jalur lain menuju ke jalan utama, jalur tengah. Motor segera melaju untuk mencari pengisi perut.

Jalan dan Kulineran di Solo

Kota Solo atau Surakarta tidak jauh letaknya dari Jogja. Kalau naik KRL waktu tempuhnya adalah 1 jam, tetapi kalau pakai kereta api jarak ja...